MENGENAL GUNUNG LAWU (Panduan singkat pendakian bagi pemula)
Kamis, 12 September 2013
0
komentar
A. Pendahuluan
jalur
pendakian Gn Lawu Jawa Timur
Mendaki
gunung memang merupakan hobby yang ekstrem dan sedang digemari di kalangan para
pemuda dan remaja. Disamping sebagai wahana untuk kegiatan terhadap cinta
lingkungan alam juga sebagai wahana guna perenungan dan pendekatan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.Disamping membutuhkan fisik yang prima dan mental yang
tangguh untuk menghadapi medan yang terjal, berliku , dan tajam ada beberapa
hal – hal yang harus diketahui oleh para pendaki tentang karakter gunung lawu
itu sendiri.
Gunung
Lawu memiliki ketinggian 3.265 M.dpl ( dari permukaan Laut ) terletak di
perbatasan Propinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah secara umum tidak jauh berbeda
karakternya alamnya dengan gunung – gunung lain di Indonesia, hanya dalam
beberapa hal gunung Lawu ada sesuatu yang khas yang tidak dimiliki oleh gunung
– gunung lain di Indonesia.Beberapa keunikan yang ada di gunung Lawu merupakan
suatu khasanah yang selayaknya juga diketahui oleh para pendaki khususnya para
pemula agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Gunung
Lawu bagi masyarakat Jawa memiliki arti yang sangat spiritual hal ini
dikarenakan kepercayaan masyarakat Jawa yang meyakini bahwa Gunung Lawu adalah
tempat muksanya Prabu Brawijaya V Raja Majapahit terakhir. Di samping itu Lawu
dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai salah satu paku Tanah Jawa
selain Gunung Merapi dan Laut Selatan tentunya.
Pendakian
ke gunung Lawu yang paling ramai dilaksanakan pada malam tanggal 1 Muharram
atau pada malam 1 Suro dan pada malam tahun baru. Pada malam 1 Muharram jumlah
para pendaki yang menunju puncak Lawu atau tempat – tempat yang dikeramatkan di
gunung Lawu ,bisa mencapai sekitar 10 ribu orang lebih. Tua, muda, mahasiswa,
pelajar, dosen, karyawan, Pramuka, Pecina Alam, pengusaha, petani, pengamen,
bahkan para pengangguran beramai – ramai mendaki Lawu dengan berbagai maksud
dan tujuan tertentu.
B. KARAKTER
GUNUNG LAWU SECARA UMUM
1. KETINGGIAN DAN SUHU UDARA
a.
Ketinggian Gunung Lawu adalah 3.265 meter dari permukaan laut
b. Suhu
udara di puncak pada sian hari rata-rata suhu berkisar antara 10 derajat
celsius – 14 derajat celsius. Pada malam hari rata- rata 4 derajat celsius – 0
derajat celsius
2. LOKASI
Terletak
di wilayah kab. Magetan, Jawa Timur dan sebagian di Kab. Karang Anyar , Jawa
Tengah. Gunung Lawu termasuk dalam wilayah KPH Lawu Ds Perum INHUTANI UNIT II
Jawa Timur, dan sebagian dalam wilayah KPH Surakarta Perum INHUTANI UNIT I Jawa
Tengah.
a. Wilayah
Jawa Timur bagian barat dibatasi :
sungai Gandong yang berasal dari
Kawah Condrodimuko membelah ke utara sampai gunung Nitis. Atau garis
triangulasi dari puncak tertingi Hargodumilah sampai ke desa Cemoro Sewu.
b. Sebelah
Timur :
Dusun Karang Gupito, Desa
KarangRejo, Kecamatan Kendal Kabupaten Ngawi.
c. Sebelah
Utara :
Dusun Wukir Bayi atau Girimulyo,
desa Kletekan, kecamatan Jogorogo, Kabupaten Magetan.
d. Sebelah
Selatan
Dusun Cemoro Sewu, Dusun Singolangu,
Desa Ngancar, Kec. Plaosan kabupaten Magetan.
B. FLORA
DAN FAUNA
1. FLORA ( TUMBUHAN )
Di kaki
gunung yang sebagian besar merupakan hutan lindung berbagai jenis tanaman rimba
banyak dijumpai disini seperti : Cemara, Puspa, Kipres, Tristania, sedang di
bawah pohon – pohon ini terdapat empon-empon seperti Kunyit, laos, jahe dan
bunga-bunga kuning, merah berbaur dengan rumputan.
Di perut
gunung pepohonan jenis acasia decurent, Mlandingan gunung dan sebagian
Tristania makin banyak dijumpai. Diwilayah ini pohonan amat lebat, sinar
matahari tidak sepenuhnya mencapai tanah sehingga membuat wilayah ini redup dan
dingin.
Di wilayah
dada tumbuhan yang mendominasi kebanyakan Pasang Tritis, bentuknya seperti
bonzai. Tingginya tak lebih dari 4 meter tajuknya lebat dengan daun kecil bulat
agak jarang berwarna hijau dan di ujung daunnya agak kemerah-merahan. Batang
pohon ini berwarna hitam keras dan kuat, tumbuh merata di sela-sela batu
cadas.di bagian bawah banyak jenis bunga-bunga berwarna-warni seperti edelweis
juga tumbuh di bawah tegakan
Di wilayah
sekitar puncak jenis acasia decurent tumbuh rapat menutup permukaan tanah. Di
sebelah barat tidak tampak tumbuhannya karena tebing gunung menjulang tegar.
Baru setelah sampai puncak gunung Lawu, acasia decurent dan manisrejo
menghampar luas menutup permukaan puncak gunung. Di sini nyaris tidak ada pohon
besar sehingga sinar matahari langsung menerpa kulit kita. Sementara udara
dingin yang amat menggigit memungkinkan terjadinya kontradiksi antara panas
badan dan dinginnya udara ini membuat kulit para pendaki menjadi pecah – pecah.
2. F A U N A ( BINATANG )
Ada satu dua jenis harimau masih sering dijumpai masyarakat
terutama di daerah dusun Mojosemi atau Singolangu. Begitu juga babi hutan dan
Kijang masih dapat atau banyak dijumpai di sekitar desa Sarangan, desa Cemoro
Sewu, Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan.
Burung
Jalak Gading atau yang lebih dikenal dengan “jalak Lawu” hampir sepanjang jalan
di jalur pendakian, lebih-lebih bagi para pendaki yang mendapat “ berkah dari
Sunan Lawu” para pendaki ini selalu diikuti burung jalak gadin yang dianggap “
keramat” sebagai menunjuk jalan untuk menuju Puncak. Burung ini tidak besar
hanya sebesar jalak Ungu dan jalak Bali. Bulunya berwarna coklat, bagian dada
berwarna kuning emas, paruh dan kakinya kuning, nampak begitu jinak namun
begitu didekati dia langsung tebang. Ular hampir tidak pernah dijumpai penduduk
namun jika kera masih sering dilihat.
3. TOPOGRAFI
Bila para pendaki memulai pendakian lewat dusun Cemoro Sewu
gambaran route pendakian yang akan dilewati adalah sebagai berikut :
Antara posko Cemoro Sewu ( Start pendakian) s/d Pos 1
kemiringan berkisar 30 s/d 40 derajat dan sedikitdemi sedikit menanjak, banyak
kelokan, jalan setapak berupa makadam. Jalanan makadam ini sekitar 500 meter.
Kemudian antara pos 1 dan pos 2 kurang lebih ketinggian 2.000 meter Dpl. Medan
semakin terjal, kemiringan bertambah sekitar 40 s/d 50 derajat. Jalan berbatu,
semakin ke atas sejauh 1.500 meter ( antara pos 2 s/d pos 5 ) kemiringan
mencapai 50 s/d 80 daerah ini benar- benar curam dan terjal. kemudian antara
leher sampai puncak Hargo Dumilah sejauh 1.000 meter ( antara pos 5 s/d Puncak )
medan yang curam sudah tidak nampak, landai sedikit, naik turun, melingkar
mengelilingi puncak. Pada puncak gunung Lawu terdapat beberapa bukit kecil,
seperti Hargo Dumilah, bukit Cokro Suryo, jurang dan lembah bekas muntahan
gunung yang membeku ratusan ribu tahun yang lalu.
Sebelah timur puncak Hargo Dumilah, hamparan lembah amat
luas sampai turun ke lereng bawah. Sebelah barat jurang-jurang kawah
Condrodimuko,cokrosrengenge, Pawon Sewu nampak begitu mengerikan dan terkesan
mistis.
Belahan selatan, hutan alam berbukit-bukit sampai turun ke
lereng bawah, sedang belahan utara banyak lembah – lembah, bukit pasar Dieng
dan Selo Pundutan nampak jelas.
Sekilas
jarak tempuh dari dusun Cemoro Sewu sampai Puncak Hargo Dumilah sekitar 7
Kilometer. Rinciannya sebagai berikut :
-Posko
pemberangkatan – Pos 1 : 1.990 Km
-Pos
1 - Pos 2 : 2.250 Km
-Pos
2 - Pos 3 : 0,700 Km
-Pos
3 - Pos 4 : 1,750 Km
-Pos
4 - Pos 5 - Puncak : 0,300 Km
4. TEMPAT – TEMAT YANG DI KERAMATKAN
A. HARGO
DALEM
Bentuknya seperti makam biasa, tidak
terkesan peninggalan kno, dihiasi ukiran kayu sebagai dinding belakang. Sebelah
kanan kiri ukiran bunga, bagian tengah ukiran gunungan wayang. Atap dari bahan
sirap, membujur ke arah utara dan selatan. Di tengah-tengahnya terdapat makuto
atau mahkota raja. Menurut cerita rakyat, Hargo Dalem merupakan tempat
petilasan muksanya Prabu Brawijaya V raja Majapahit atau yang kikenal dengan
sebutan “Sunan Lawu”. Tempat ini dianggap tempat paling keramat dan paling di
sakralkan. Di waktu- waktu tertentu banyak orang – orang yang bersemedi dan
bertapa di tempat ini. Bahkan banyak bangsawan kraton Surakarta dan Kesultanan
Jogyakarta juga datang ketempat ini.
B. HARGO
DUMILAH
Merupakan puncak tertinggi gunung
Lawu, wilayah ini berupa tanah padas yang ditumbuhi sedikit caliandra,
edelweis, manisrejo dan rumput gambut. Disini terdapat tugu prasasti yang
sering diabadikan ( difoto) oleh para pendaki sebagai bukti mereka sudah pernah
sampai puncak lawu. Dan ditempat ini pula para pendaki dapat melihat “sunrise “
( matahari terbit ). Saat inilah yang paling banyak ditunggu – tunggu oleh para
pendaki.
C. TELOGO
KUNING
Tempat ini adalah sebuah lembah yang
diapit oleh puncak Hargo Dumilah dan puncak gunung yang lainnya tapi masih
dalam gugusan gunung Lawu. Dasar telogo ini adalah rumput gambut yang berwarna
kuning teal. Bila musim penghujan terisi oleh air, warnanya menjadi kuning.
Tempat ini terletak sebelah selatan Hargo Dumilah turun ke bawah sedikit.
Menurut cerita rakyat tempat ini adalah tempat para putri kerajaan Majapahit mandi.
D. SENDANG
DRAJAT
Bentuknya
menyerupai sumur dengan garis tengah kurang lebih 2 meter dan dalamnya 1,5
meter.airnya tidak pernah habis walau terus diambil. Dan bila bulan Suro, air
dikuras oleh para pendaki yang singgah disana. Dipercayai oleh banyak kalangan
air sendang Drajat ini memberikan banyak manfaat bagi yang meminumnya. Saat ini
sekitar sendang Dajat sudah dibangun Kamar mandi dan WC.
E. SUMUR
JOLOTUNDO
Dari luar bentuknya menyerupai
lubang besar yang berukuran garis tengah 3 meter dan dalamnya kurang lebih 4
mater. Dalam sumur ini terdapat pintu goa dengan garis tengah 90 cm. konon
tempat ini merupakan tempat semedi
Prabu Brawijaya V.
Dan masih
banyak lagi tempat tempat keramat lainnya dalam kawasan gugung Lawu yang hampir
semuanya bedasarkan cerita rakyat berhubungan dengan keberadaan Prabu Brawijaya
V atau Sunan Lawu., seperti : Lumbung Selayur, Pawon Sewu, Sendang Putri,
Sendang Lanang, goa Kepatihan, makam Raden Bagus Bancolono, Hargo Tiling,
Kandang Umbaran, Kawah Condrodimuko, Sendang Macan, Pasar Dieng, Selo Pundutan,
Sendang Panguripan, goa selarong, Pertapan Jodipati, dll.
5. MACAM LARANGAN MENDAKI KE GUNUNG LAWU
1. Memakai kain sutra berwarna hijau pupus
2. Memakai udeng/ ikat kepala bercorak gadung melati
3. Memetik/ membawa / merusak bunga edelweis
4. Merusak tempat-tempat yang dikeramatkan
5. Mencorat-coret di sembarang tempat
6. Mengganggu burung jalak Gading
7. Berbicara kasar, sombong, takabur ( jw; nyepelekne)
8. Membuang sampah sembarang tempat
9. Membawa obor untuk alat penerangan
10. Berpisah dengan kelompok ( khusus pemula )
11. Minum – minuman keras
12. Memotong kompas / cross feet, selama pendakian
Hal-hal tersebut diatas, sangatlah
perlu diperhatikan bagi para pendaki khususnya para pemula. Semua itu demi
keselamatan dan keamanan bersama.dan perlu diingat pada waktu pendakian prinsip
utama seorang petualang sejati yaitu :
1. Jangan membunuh apapun kecuali waktu
2. Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak
3. Jangan mengambil apapun kecuali photo
6. PENUTUP
Pendakian
ke gunung Lawu akan terasa enjoy apabila didukung oleh kelengkapan dan kesiapan
dari para pendaki itu sendiri, untuk itu apabila hendak mendaki sebaiknya dan
harus dilakukan pertama kali adalah berdoa mohon kepada Tuhan Yang Maha Esa
agar diberi kemudahan, kelancaran , kesehatan dan kesuksesan dalam mencapai
tujuan yang diharapkan. Kedua melaporlah ke petugas yang pos pantau / start dan
jangan malu untuk minta bantuan kepada sesama pendaki apabila mengalami
kesulitan dalam perjalanan.
Tetap
hormati adat dan kepercayaan yang berlaku di sekitar gunung Lawu baik anda
percaya atau tidak, tetap berhati-hati, jaga ucapan juga tingkah laku karena
pada kenyataannya masih sering terjadi hal-hal yang ajaib yang sulit diterima
logika/ nalar.
Bagi para
pemula khususnya remaja pelajar baik SMP ataupun SMA/K yang paling utama bekali
diri anda dengan memperdalam pengetahuan tentang Survival (teknik bertahan
hidup).
0 komentar:
Posting Komentar